Eritromisin, turunan dari bakteri seperti jamur, Streptomyces erythraeus, pertama kali diperkenalkan pada awal tahun 1950an. Eritromisin menghambat sintesis protein. Dalam dosis rendah sampai sedang, that ini mempunyai efek bakteriostatik, dan dengan dosis tinggi, efeknya bakterisidal. Eritromisin dapat diberikan melalui oral atau intravena. Karena asam lambung merusak obat, berbagai garam eritromisin (contoh etilsuksinat, stearat, dan estolat) dipakai untuk mengurangi disolusi (pecah menjadi partikel-partikel kecil) di dalam lambung dan memungkinkan absorpsi terjadi pada usus halus. Untuk pemakaian intravena, senyawa, eritromisin laktobionat dan eritromisin gluseptat, dipakai untuk meningkatkan absorpsi obat.
Tampilkan postingan dengan label gram negatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gram negatif. Tampilkan semua postingan
Kamis, 14 April 2011
Kamis, 24 Maret 2011
Chlamydia trachomatis (CT): Efek pada Kehamilan
Chlamydia trachomatis (CT), suatu parasit gram negatif intrasel obligat, merupakan infeksi menular seksual yang banyak ditemukan di Amerika Serikat. CT menyebabkan trakoma, infeksi genitalia, dan limfogranuloma venereum pada orang dewasa. Gejalanya sama dengan gejala yang ditimbulkan oleh bakteri penyebab gonore, yakni terdapat rabas serviks mukopurulen (jernih, putih, atau keruh), eritema, edema, rapuh serviks, bartolinitis, dan sindom uretral. Namun, enam puluh tujuh persen hingga 74% wanita dengan infeksi pada genitalia bersifat asimtomatik. Sindrom Reiter, yakni sindrom yang terdiri dari uretritis, konjungtivitis, dan artritis, juga dapat terjadi.
Kategori:
bartolinitis,
bayi baru lahir,
chlamydia trachomatis,
endometritis,
gonorea,
gram negatif,
infeksi hiv,
infeksi menular seksual,
infertilitas,
kehamilan ektopik,
klamidia,
konjungtivitis,
neonatus,
Obstetri Ginekologi,
oftalmia neonatorum,
salpingitis,
Sindrom Reiter,
uretritis,
wanita hamil
Langganan:
Postingan (Atom)