Eritromisin, turunan dari bakteri seperti jamur, Streptomyces erythraeus, pertama kali diperkenalkan pada awal tahun 1950an. Eritromisin menghambat sintesis protein. Dalam dosis rendah sampai sedang, that ini mempunyai efek bakteriostatik, dan dengan dosis tinggi, efeknya bakterisidal. Eritromisin dapat diberikan melalui oral atau intravena. Karena asam lambung merusak obat, berbagai garam eritromisin (contoh etilsuksinat, stearat, dan estolat) dipakai untuk mengurangi disolusi (pecah menjadi partikel-partikel kecil) di dalam lambung dan memungkinkan absorpsi terjadi pada usus halus. Untuk pemakaian intravena, senyawa, eritromisin laktobionat dan eritromisin gluseptat, dipakai untuk meningkatkan absorpsi obat.